Tulisan untuk kegiatan di kampus
Tuesday, October 31st, 2006Mengejar Impian
Oleh Fajar Anugerah
Saya
pertama kali menetapkan impian terbesar saya ketika saya berusia 13 tahun. Pada
saat itu, ketika liburan kenaikan kelas 2 SMP, saya mendapatkan kesempatan
untuk pergi ke Amerika Serikat karena kalah dalam kompetisi bercerita dalam
bahasa Inggris. Ya, KALAH, saya tidak salah tulis. Pada kompetisi tersebut,
pada awalnya saya meraih peringkat pertama dari tingkat sekolah hingga Jakarta
Selatan. Namun apa daya, ketika tingkat DKI Jakarta, saya yang waktu itu masih
kelas 1, tanpa didampingi guru satupun, dan lagi mendapatkan nomor urut tampil
pertama…akhirnya tidak mendapat satupun peringkat juara.
Alhamdulillah,
ayah saya, yang pada saat itu, pertama kalinya mengantar saya ke kegiatan
sejenis, merasa tersentuh. Beliau pada saat itu merasa bangga akan penampilan
saya, walaupun saya tidak memenangkan satupun peringkat juara. Beliau kemudian
mengusahakan agar saya dapat mengikuti paket perjalanan wisata mengunjungi
Amerika Serikat selama kurang lebih 1 bulan, dengan 1 syarat. Syarat tersebut
adalah saya harus pergi tanpa didampingi keluarga satupun. Pada saat itu saya
nekad memberanikan diri untuk mengambil tantangan tersebut.
Kesempatan
mengunjungi Amerika Serikat, benar-benar merupakan pengalaman berkesan bagi
saya. Pengalaman tersebut sangat membuka wawasan saya mengenai kemajuan yang
mereka telah capai. Pada saat itulah saya menetapkan bahwa suatu waktu kelak,
saya harus kembali ke negara maju seperti Amerika Serikat, untuk menuntut ilmu.
Saya
menghabiskan waktu sekitar 8 tahun untuk meniti jalan dan membangun kesiapan
diri saya untuk mencapai impian tersebut. Saya berusaha keras meningkatkan
kemampuan bahasa Inggris, mencari berbagai informasi yang berhubungan dengan
peluang studi ke luar negeri dan membangun kemandirian yang dibutuhkan untuk
bertahan hidup dan berhasil di luar negeri.
Kesempatan
tersebut datang mengetuk ketika saya berada di tahun keempat masa kuliah di
Fakultas Psikologi UNPAD. Ketika itu, saya berhasil lolos menjadi kandidat
peserta pertukaran pemuda yang diselenggarakan DepDikNas (DikBud saat itu).
Sayangnya beberapa kejadian non teknis membuat peluang tersebut tidak dapat
saya raih (sebuah cerita yang saya simpan untuk kesempatan lain). Kejadian ini
sempat membuat saya tertekan, namun Alhamudulillah, saya tidak berlarut-larut
dalam masalah tersebut.
Berdasarkan Ada beberapa cara yang akan dapat membuat
informasi yang saya kumpulkan, peluang berikutnya bagi saya untuk belajar di
luar negeri adalah dengan meraih beasiswa.
peluang saya meraih beasiswa menjadi besar. Pertama adalah dengan meraih
prestasi akademis yang baik (diindikasikan dengan IPK minimal 3,0). Sayangnya
prestasi akademis saya kurang dapat dibanggakan. Kedua, adalah dengan menjadi
staf pengajar atau pegawai negeri. Saya kurang tertarik dengan gagasan
keterikatan seperti itu di usia saya yang masih relative muda. Cara yang
terakhir adalah dengan terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial atau
profesional selama kurang lebih 2 tahun.
Saya
mencoba mengumpulkan pengalaman kerja di sebuah perusahaan kecil yang bergerak
di bidang kreatif dan IT. Namun, Allah berkehendak lain, pada akhir 2004,
sebuah bencana besar terjadi di Sumatera Utara dan NAD. Terpanggil untuk
menyumbangkan hasil pendidikan saya dan mempertimbangkan bahwa pengalaman tersebut
juga akan membantu mengembangkan diri saya untuk meraih beasiswa, saya
mendaftarkan diri sebagai relawan Pusat Krisis Psikologi Universitas Indonesia.
Setelah
melalui serangkaian proses pembekalan dan seleksi, pada bulan Februari saya
diberangkatkan untuk menjadi tenaga psikososial di sebuah desa dekat Meulaboh. Pada awal
keberangkatan, saya memang niatnya hanya untuk membantu dan mengumpulkan
pengalaman bekerja sosial. Namun, setibanya di lokasi, ternyata saya dituntut untuk menjadi
pekerja kemanusiaan semi profesional yang melayani kebutuhan dukungan
psikososial masyarakat yang terkena dampak bencana.
CenterSaya ditempatkan di bawah pengelolaan
manajemen Kementrian Pemberdayaan Perempuan, dalam program yang disebut Children Centre(sebuah program tanggap darurat
perlindungan anak hasil kerja sama UNICEF dengan pemerintah RI). Pengalaman 7
bulan pertama benar-benar menantang, kami harus tinggal di tenda dekat dengan
lokasi barak pengungsi. Hampir selama 24 jam setiap hari dalam 1 minggu kami
melayani semua kebutuhan pengungsi anak dan keluarganya. Kami menyediakan
bantuan nutrisi, usaha pelacakan anak yang terpisah dan dukungan psikologis
bagi masyarakat yang terkena dampak bencana tersebut/
Selama
7 bulan tersebut, saya juga membangun jaringan dengan sesama lembaga
kemanusiaan, LSM dan lembaga PBB yang memangku tanggung jawab mengkoordinasikan
usaha tanggap darurat, di lokasi saya kebetulan UNICEF. Kemampuan bahasa
Inggris saya, membuat saya diposisikan untuk mewakili kelompok saya setiap kali
mengikuti pertemuan koordinasi dengan UNICEF. Pada bulan Agustus, saya
direkomendasikan untuk dipindahkan ke tingkat propinsi, di Banda Aceh,
Selama
kurang lebih 4 bulan, saya bertanggung jawab untuk membantu koordinator program
(staf Kementrian Pemberdayaan Perempuan) untuk mengelola keseluruhan program Children Centre
Saya membantu
pengelolaan kegiatan, pelatihan staf, koordinasi staf dan koordinasi dengan
UNICEF Banda Aceh dan lembaga-lembaga internasional lain. Pada kurun waktu
inilah, saya berhasil membangun jejaring yang kuat dengan staf lembaga
internasional yang aktif di kegiatan kemanusiaan di Aceh.
Pada
akhir masa kontrak saya, UNICEF menawari saya untuk bekerja langsung pada
mereka untuk mengkoordinasikan suatu proyek. Saya menerima tawaran tersebut.
Saya mulai bekerja dengan UNICEF pada bulan Mei 2006. Pada saat ini, tanggung
jawab saya lebih besar, karena saya melapor langsung pada beberapa lembaga yang
bertanggung jawab mengkoordinasikan program perlindungan anak, khususnya pelayanan
psikososial dan kesehatan mental.
Sejak
akhir tahun 2005, saya sudah mulai mencari peluang untuk memanfaatkan
pengalaman saya selama ini, untuk mendapatkan beasiswa. Pada bulan Januari,
seorang kawan memberikan informasi mengenai peluang beasiswa dari British
Council, untuk mengambil studi paska sarjana dalam bidang Hak Asasi Manusia di
Inggris. Saya merasa bahwa peluang ini sesuai dengan pengalaman yang telah saya
bangun, sehingga saya memberanikan diri mengirimkan formulir aplikasi dan
persyaratan yang diminta. Pada hari ulang tahun saya, di tengah hutan yang
sulit mendapatkan sinyal telepon, saya mendapatkan telepon dari British Council
Jakarta. Mereka mengundang saya untuk mengikuti proses wawancara. Saat itu,
saya merasa bahwa itu merupakan hadiah ulang tahun terbaik saya, bahkan bila
saya tidak benar-benar lolos dari seleksi wawancara. Bukan rahasia lagi, bahwa
British Council sangat selektif dalam pemberian beasiswa dan kejadian menerima
kabar tersebut di tengah hutan di Aceh benar-benar seperti sebuah mukjizat pada
saat itu.
Singkat
cerita, saya akhirnya melewati proses wawancara tersebut. Saya kemudian
menerima panggilan lagi pada bulan Juni, untuk mengikuti tes IELTS. Pada bulan
Juli, saya menerima kabar bahwa saya mendapatkan hasil yang memadai untuk
menerima tawaran beasiswa tersebut. Bulan Agustus lalu, saya mengikuti kegiatan
orientasi akademik selama 1 bulan di Istanbul, Turki. Sekarang saya sedang menjalani persiapan akhir sebelum akhirnya akan
berangkat pada tanggal 30 bulan ini.
Setalah
melalui proses yang cukup panjang dan berliku, saya akhirnya dapat meraih salah
satu impian saya. Saya sendiri tidak membayangkan kejadiannya akan seperti ini
dan saya bersyukur pada Allah akan kesempatan ini. Semua kelelahan dan cobaan
yang telah saya lalui, seperti tidak berbekas bila dibandingkan dengan perasaan
gembira menanti dimulainya studi saya.
Saya
telah mengejar impian saya dan sekarang selangkah lebih dekat untuk meraihnya.
Bagaimana dengan impian Anda?
Berikut saya bagi beberapa halaman website yang
menyediakan informasi mengenai beasiswa:
- Umum
http://www.iie.org/
- Amerika
Serikat
- Inggris
www.chevening.or.id/
-
Australia
http://www.studyinaustralia.or.id/Beasiswa.htm
- Belanda
-
Indonesia
www.sampoernafoundation.org/
Milis beasiswa
http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/
Ingat, mengetahui apa yang Anda
inginkan dan apa yang anda bisa raih adalah langkah awal mengejar mimpi Anda!
Langkah berikutnya adalah mencari tahu kemana Anda harus berlari mengejarnya.