Archive for October, 2006

Tulisan untuk kegiatan di kampus

Tuesday, October 31st, 2006

Mengejar Impian

Oleh Fajar Anugerah

  Saya
pertama kali menetapkan impian terbesar saya ketika saya berusia 13 tahun. Pada
saat itu, ketika liburan kenaikan kelas 2 SMP, saya mendapatkan kesempatan
untuk pergi ke Amerika Serikat karena kalah dalam kompetisi bercerita dalam
bahasa Inggris. Ya, KALAH, saya tidak salah tulis. Pada kompetisi tersebut,
pada awalnya saya meraih peringkat pertama dari tingkat sekolah hingga Jakarta
Selatan. Namun apa daya, ketika tingkat DKI Jakarta, saya yang waktu itu masih
kelas 1, tanpa didampingi guru satupun, dan lagi mendapatkan nomor urut tampil
pertama…akhirnya tidak mendapat satupun peringkat juara.

Alhamdulillah,
ayah saya, yang pada saat itu, pertama kalinya mengantar saya ke kegiatan
sejenis, merasa tersentuh. Beliau pada saat itu merasa bangga akan penampilan
saya, walaupun saya tidak memenangkan satupun peringkat juara. Beliau kemudian
mengusahakan agar saya dapat mengikuti paket perjalanan wisata mengunjungi
Amerika Serikat selama kurang lebih 1 bulan, dengan 1 syarat. Syarat tersebut
adalah saya harus pergi tanpa didampingi keluarga satupun. Pada saat itu saya
nekad memberanikan diri untuk mengambil tantangan tersebut.

Kesempatan
mengunjungi Amerika Serikat, benar-benar merupakan pengalaman berkesan bagi
saya. Pengalaman tersebut sangat membuka wawasan saya mengenai kemajuan yang
mereka telah capai. Pada saat itulah saya menetapkan bahwa suatu waktu kelak,
saya harus kembali ke negara maju seperti Amerika Serikat, untuk menuntut ilmu.

Saya
menghabiskan waktu sekitar 8 tahun untuk meniti jalan dan membangun kesiapan
diri saya untuk mencapai impian tersebut. Saya berusaha keras meningkatkan
kemampuan bahasa Inggris, mencari berbagai informasi yang berhubungan dengan
peluang studi ke luar negeri dan membangun kemandirian yang dibutuhkan untuk
bertahan hidup dan berhasil di luar negeri.

Kesempatan
tersebut datang mengetuk ketika saya berada di tahun keempat masa kuliah di
Fakultas Psikologi UNPAD. Ketika itu, saya berhasil lolos menjadi kandidat
peserta pertukaran pemuda yang diselenggarakan DepDikNas (DikBud saat itu).
Sayangnya beberapa kejadian non teknis membuat peluang tersebut tidak dapat
saya raih (sebuah cerita yang saya simpan untuk kesempatan lain). Kejadian ini
sempat membuat saya tertekan, namun Alhamudulillah, saya tidak berlarut-larut
dalam masalah tersebut.

Berdasarkan
informasi yang saya kumpulkan, peluang berikutnya bagi saya untuk belajar di
luar negeri adalah dengan meraih beasiswa.

Ada beberapa cara yang akan dapat membuat
peluang saya meraih beasiswa menjadi besar. Pertama adalah dengan meraih
prestasi akademis yang baik (diindikasikan dengan IPK minimal 3,0). Sayangnya
prestasi akademis saya kurang dapat dibanggakan. Kedua, adalah dengan menjadi
staf pengajar atau pegawai negeri. Saya kurang tertarik dengan gagasan
keterikatan seperti itu di usia saya yang masih relative muda. Cara yang
terakhir adalah dengan terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial atau
profesional selama kurang lebih 2 tahun.

Saya
mencoba mengumpulkan pengalaman kerja di sebuah perusahaan kecil yang bergerak
di bidang kreatif dan IT. Namun, Allah berkehendak lain, pada akhir 2004,
sebuah bencana besar terjadi di Sumatera Utara dan NAD. Terpanggil untuk
menyumbangkan hasil pendidikan saya dan mempertimbangkan bahwa pengalaman tersebut
juga akan membantu mengembangkan diri saya untuk meraih beasiswa, saya
mendaftarkan diri sebagai relawan Pusat Krisis Psikologi Universitas Indonesia.

Setelah
melalui serangkaian proses pembekalan dan seleksi, pada bulan Februari saya
diberangkatkan untuk menjadi tenaga psikososial di sebuah desa dekat Meulaboh. Pada awal
keberangkatan, saya memang niatnya hanya untuk membantu dan mengumpulkan
pengalaman bekerja sosial. Namun, setibanya di lokasi, ternyata saya dituntut untuk menjadi
pekerja kemanusiaan semi profesional yang melayani kebutuhan dukungan
psikososial masyarakat yang terkena dampak bencana.

CenterSaya ditempatkan di bawah pengelolaan
manajemen Kementrian Pemberdayaan Perempuan, dalam program yang disebut Children Centre(sebuah program tanggap darurat
perlindungan anak hasil kerja sama UNICEF dengan pemerintah RI). Pengalaman 7
bulan pertama benar-benar menantang, kami harus tinggal di tenda dekat dengan
lokasi barak pengungsi. Hampir selama 24 jam setiap hari dalam 1 minggu kami
melayani semua kebutuhan pengungsi anak dan keluarganya. Kami menyediakan
bantuan nutrisi, usaha pelacakan anak yang terpisah dan dukungan psikologis
bagi masyarakat yang terkena dampak bencana tersebut/

Selama
7 bulan tersebut, saya juga membangun jaringan dengan sesama lembaga
kemanusiaan, LSM dan lembaga PBB yang memangku tanggung jawab mengkoordinasikan
usaha tanggap darurat, di lokasi saya kebetulan UNICEF. Kemampuan bahasa
Inggris saya, membuat saya diposisikan untuk mewakili kelompok saya setiap kali
mengikuti pertemuan koordinasi dengan UNICEF. Pada bulan Agustus, saya
direkomendasikan untuk dipindahkan ke tingkat propinsi, di  Banda Aceh,

Selama
kurang lebih 4 bulan, saya bertanggung jawab untuk membantu koordinator program
(staf Kementrian Pemberdayaan Perempuan) untuk mengelola keseluruhan program Children Centre

Saya membantu
pengelolaan kegiatan, pelatihan staf, koordinasi staf dan koordinasi dengan
UNICEF Banda Aceh dan lembaga-lembaga internasional lain. Pada kurun waktu
inilah, saya berhasil membangun jejaring yang kuat dengan staf lembaga
internasional yang aktif di kegiatan kemanusiaan di Aceh.

Pada
akhir masa kontrak saya, UNICEF menawari saya untuk bekerja langsung pada
mereka untuk mengkoordinasikan suatu proyek. Saya menerima tawaran tersebut.
Saya mulai bekerja dengan UNICEF pada bulan Mei 2006. Pada saat ini, tanggung
jawab saya lebih besar, karena saya melapor langsung pada beberapa lembaga yang
bertanggung jawab mengkoordinasikan program perlindungan anak, khususnya pelayanan
psikososial dan kesehatan mental.

Sejak
akhir tahun 2005, saya sudah mulai mencari peluang untuk memanfaatkan
pengalaman saya selama ini, untuk mendapatkan beasiswa. Pada bulan Januari,
seorang kawan memberikan informasi mengenai peluang beasiswa dari British
Council, untuk mengambil studi paska sarjana dalam bidang Hak Asasi Manusia di
Inggris. Saya merasa bahwa peluang ini sesuai dengan pengalaman yang telah saya
bangun, sehingga saya memberanikan diri mengirimkan formulir aplikasi dan
persyaratan yang diminta. Pada hari ulang tahun saya, di tengah hutan yang
sulit mendapatkan sinyal telepon, saya mendapatkan telepon dari British Council
Jakarta. Mereka mengundang saya untuk mengikuti proses wawancara. Saat itu,
saya merasa bahwa itu merupakan hadiah ulang tahun terbaik saya, bahkan bila
saya tidak benar-benar lolos dari seleksi wawancara. Bukan rahasia lagi, bahwa
British Council sangat selektif dalam pemberian beasiswa dan kejadian menerima
kabar tersebut di tengah hutan di Aceh benar-benar seperti sebuah mukjizat pada
saat itu.

Singkat
cerita, saya akhirnya melewati proses wawancara tersebut. Saya kemudian
menerima panggilan lagi pada bulan Juni, untuk mengikuti tes IELTS. Pada bulan
Juli, saya menerima kabar bahwa saya mendapatkan hasil yang memadai untuk
menerima tawaran beasiswa tersebut. Bulan Agustus lalu, saya mengikuti kegiatan
orientasi akademik selama 1 bulan di Istanbul, Turki. Sekarang saya sedang menjalani persiapan akhir sebelum akhirnya akan
berangkat pada tanggal 30 bulan ini.

Setalah
melalui proses yang cukup panjang dan berliku, saya akhirnya dapat meraih salah
satu impian saya. Saya sendiri tidak membayangkan kejadiannya akan seperti ini
dan saya bersyukur pada Allah akan kesempatan ini. Semua kelelahan dan cobaan
yang telah saya lalui, seperti tidak berbekas bila dibandingkan dengan perasaan
gembira menanti dimulainya studi saya.

Saya
telah mengejar impian saya dan sekarang selangkah lebih dekat untuk meraihnya.
Bagaimana dengan impian Anda? 

 

 

Berikut saya bagi beberapa halaman website yang
menyediakan informasi mengenai beasiswa:

  • Umum

http://www.iie.org/

  • Amerika
         Serikat

www.aminef.or.id/

  • Inggris

www.chevening.or.id/

  • Australia

www.adsjakarta.or.id

http://www.studyinaustralia.or.id/Beasiswa.htm

  • Belanda

www.nec.or.id/

  • Indonesia

www.sampoernafoundation.org/

 

Milis beasiswa

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

 

Ingat, mengetahui apa yang Anda
inginkan dan apa yang anda bisa raih adalah langkah awal mengejar mimpi Anda!
Langkah berikutnya adalah mencari tahu kemana Anda harus berlari mengejarnya.

Adzan Virtual

Tuesday, October 31st, 2006

Puasa pertama di
Inggris

 

Nama saya
Fajar Anugerah usia 27 tahun. Saya dan istri saya merupakan salah satu dari
sekian pasangan muda yang mendapatkan kesempatan dari Allah untuk menunaikan
ibadah puasa pertama kami sebagai suami istri, di tempat di mana Islam
merupakan agama minoritas. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk
melanjutkan studi paska sarjana saya, dengan beasiswa, di Inggris.

Saya dan istri
saya menikah pada tanggal 26 Juni 2006. Beberapa minggu setelah itu, pada
tanggal 1 Oktober 2006, kami sudah tiba di Inggris untuk mengawali masa
perkuliahan saya. Antara bulan Juli hingga Agustus, saya sempat berada di

Istanbul

, Turki selama 1 bulan untuk kegiatan orientasi
perkuliahan di Bilgi University,

Istanbul

.
Sayangnya pada saat itu, istri saya tidak bias turut serta.

Sebelum kami
tiba di Inggris, saya dan istri disibukkan oleh mempersiapkan diri menghadapi
keberangkatan kami. Persiapan tersebut terutama difokuskan pada barang apa saja
yang kami bawa sebagai bekal 1 tahun tinggal di Inggris. Sempat terbersit
kekhawatiran istri saya dan saya, bahwa kami akan menemui kesulitan beradaptasi
dengan cuaca dan melaksanakan ibadah puasa di Inggris. Terbayang oleh kami
bahwa jadwal kuliah saya yang mungkin padat, cuaca dingin yang menusuk (plus
mitos bahwa Inggris selalu hujan dan berkabut) serta tidak adanya suasana Islam
yang biasanya mewarnai bulan Ramadhan di negeri sendiri, akan cukup menyulitkan
kami beribadah, khususnya dalam berpuasa. Namun kami kuatkan tekad kami bahwa
kami pasti akan bisa berjuang bersama, dimanapun kami berada.

Alhamdulillah,
ketika kami tiba di kampus, dimana mereka menyediakan akomodasi bagi saya dan
istri, kami mendapatkan informasi bahwa ada komunitas muslim di kampus yang
melaksanakan kegiatan buka puasa bersama dan ibadah shalat Maghrib hingga
Tarawih bersama. Hari kedua kami tiba, saya berusaha datang dan menghadiri buka
puasa bersama tersebut. Ternyata komunitas muslim di kampus ini cukup kuat,
didominasi oleh muslim dari negara Timur Tengah, mereka sudah beberapa tahun
membentuk komunitas yang terdaftar dan difasilitasi oleh Student Union (semacam
Badan Eksekutif Mahasiswa) kampus saya. Atmosfer Timur Tengah amat terasa,
namun tidak membuat mereka tertutup pada kami, bahkan mereka memberikan makanan
sahur juga bagi kami.

Komunitas
muslim itu memberikan layanan buka puasa bagi anggota maupun non anggota, cukup
dengan membayar 2 poundsterling bila kami telah mendaftarkan kehadiran kami
sebelumnya, atau 4 poundsterling bila kami muncul tanpa mendaftarkan diri
sebelumnya. Hal ini nampaknya untuk mendorong orang-orang menjadi anggota dan
mendaftarkan kehadirannya di kegiatan buka puasa, sehingga sang juru masak
dapat mempersiapkan masakan sesuai dengan jumlah anggota yang akan hadir pada
setiap acara buka puasa bersama.

Kegiatan buka
puasa umumnya diawali dengan makan kurma manis yang dicelupkan ke semacam susu
krim. Setelah itu, kami shalat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan
kegiatan makan malam yang khas dengan menu Timur Tengah. Porsi makanan yang
disediakan untuk setiap orangpun relatif besar bagi perut kami. Bahkan istri
saya terkadang ditawari untuk mengambil porsi tambahan.

Sayangnya,
istri saya merasa kurang cocok dengan makanan yang disediakan, maklum lidah
orang

Indonesia

kami mungkin masih lebih mesra dengan selera nusantara dibandingkan dengan
selera 1001 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba mempersiapkan
hidangan buka puasa kami sendiri, sesederhana apapun. Terkadang kami masih
datang ke komunitas muslim tersebut untuk melaksanakan shalat berjamaah, namun
akhirnya kami lebih sering shalat berjamaah berdua. Hal ini tentunya merupakan
suatu pengalaman yang khusus juga bagi kami, dimana sebagai suami saya belajar
menjadi imam shalat bagi istri saya.

Hal lain yang
sangat terasa bagi kami adalah ketiadaan adzan maghrib yang biasanya sahut
menyahut menandakan saat buka puasa. Pada awal puasa kami di Inggris, kami
hanya menduga waktu puasanya ditandai dengan terbenamnya matahari. Namun
kemudian kami mendapatkan jadwal buka puasa dari komunitas muslim tersebut dan
hal ini cukup membantu kami. Walaupun kami sudah tahu jadwal shalat dan berbuka, namun suara adzan yang khas masih
tidak bisa kami dengar dari flat kami di lantai 13.

Akhirnya,
istri saya mengambil inisiatif untuk men-download
dan mengaktifkan sebuah aplikasi komputer gratis yang diberi nama Athan.
Program ini dirancang untuk memberi tahu penggunanya, waktu shalat di manapun
kami berada di dunia dan memainkan rekaman suara adzan. Masya Allah, akhirnya
bisa juga adzan terdengar berkumandang di lantai 13 flat kami ini. Ternyata,
ibadah puasa kami di Inggris harus didukung oleh kecanggihan teknologi.
Walhasil kamipun menikmati adzan virtual sebagai penanda ibadah shalat 5 waktu
dan berbuka puasa di Inggris.

 

 

 

You gotta be in their shoes…

Tuesday, October 17th, 2006

Now I finally understand why the "westerners" have difficulties of getting up in the morning or only take a bath once a week (they shower more frequently though). It’s an understanding you’ll get better if you’re in their shoes.

It’s so bloody cold here, for me anyway (now I’m startin to sound like these English blokes…Ow Mah Gahd!). The water is cold, the rain and the wind are chilling to the bones (Indonesian bones are definitely not made up for cold winter), and living on the 13th floor of my accommodation tower is definitely not helping either.

Anyway, there you have it. Mutual understanding and compassion for other sometimes require the sacrifice of putting yourself in someone else’s shoes. Could it be the secret of peace and understanding of mankind is only as simple as this?
Can you imagine the US  president living with a normal Iraqi for a week in Iraq? Or Jack Straw trying to weear the veil AND skimpy clothing afterwards in Arabian countries? Or Israeli’s PM living with normal Palestinian family for a month (I think it’ll take him longer to really feel the shoes!) and Sri Lankan President to commune with the Tamil for a week and the Tamil fighters to feel how it’s like to run the country, etc.

You might say, "You wish, Jar!". Hey…there’s nothing wrong of thinking that the solution for the most complex human problems is a simple thing like that. The holy day of Moslems and Christians are coming, so who knows, if we all pray and work really hard, we might just get what we’ve been praying and working for.

Warm faithful regards,
Fajar Anugerah

Campus critic

Monday, October 16th, 2006

Makna Sebuah Lustrum Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran pada
tahun ini merayakan lustrumnya yang ke 8, yang berarti usia fakultas
kita ini sudah mencapai 40 tahun. Beberapa acara yang meriah
diselenggarakan dalam rangka lustrum ke 8 tersebut, diantaranya adalah
Seminar tentang Schizophrenia, Wisuda yang lebih megah dan temu Alumni
yang diselenggarakan di sebuah hotel. Adalah wajar apabila peringatan
berdirinya suatu institusi/lahirnya seseorang yang genap 40 tahun
ditandai dengan penyelenggaraan kegiatan yang besar, karena ada rasa
bangga yang muncul bahwa institusi tersebut/orang tersebut dapat
bertahan hidup selama itu dan tentunya telah mencapai beberapa
prestasi/pencapaian tertentu. Tetapi mari kita tilik kembali apa yang
sebenarnya dapat kita lakukan atau kita maknakan dari kesejarahan
Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Sejak perpindahan kita dari
Dago Pojok, ada beberapa perubahan: Sekarang Gedung Fakultas Psikologi
Unpad menjadi 2, dengan pembagian peran (seharusnya) Gedung 1 sebagai
pusat Administrasi Perkuliahan dan Ruang Jurusan, Gedung 2 sebagai
pusat aktivitas Perkuliahan dan Kegiatan Kemahasiswaan.Fasilitas
Laboratorium Praktikum yang lebih memadai disbanding di Dago
PojokLapangan Parkir yang lebih luasMushalla dan ruang Kantin (sekarang
sedang dipugar) Hal di atas bila dilihat dari faktor fisik, dari faktor
non fisik kita sudah berganti 3 kali dekan sejak itu, ada pemisahan
program profesi dan sarjana yang lebih jelas dibanding dulu, sudah ada
penambahan beberapa dosen muda, dan lain sebagainya. Hal itu semua
merupakan suatu prestasi tersendiri, namun ijinkan saya untuk
mengajukan beberapa hal peningkatan yang masih dapat kita lakukan dalam
kurun waktu 5-10 tahun ke depan. Peningkatan yang, ketika kita genap
berusia 50 tahun, dapat lebih menunjukkan diri kita sebagai Fakultas
Psikologi yang terkemuka dalam kualitas pendidikan dan penelitian di
tingkat Asia/Asia Tenggara (Dunia ?). Beberapa hal peningkatan tersebut
adalah antara lain : Apakah sebenarnya misi Fakultas Psikologi Unpad
yang definitive, saya pikir masih banya orang yang tidak tahu. Padahal
bukankah Visi yang baik akan lebih mudah dicapai apabila disusun
bersama dan terkomunikasikan kepada semua pemegang kepentingan (stake
holder) ? Sebaiknya diadakan sosialisasi visi kepada semua civitas
akademika (mahasiswa, staff pengajar, staff administrasi, alumni dan
orang tua mahasiswa).Apa sebenarnya rencana kerja Dekan kita ? Saya
pikir seperti juga poin mengenai misi, hal ini sebaiknya
disosialisasikan kepada semua pemegang kepentingan. Kalau saja semua
pihak tahu apa yang ingin dicapai tentunya semua pihak akan tahu dimana
harus berperan dalam pencapaian tujuan tersebut. Lebih baik lagi
apabila penyusunan visi, misi dan rencana kerja ini juga melibatkan
semua elemen (mahasiswa, staf pengajar dan administrasi) sehingga
prosesnya bukan top down. Kemungkinan terbentuknya sense of
belongingness pun akan lebih besar dan mengarah kepada joint effort
yang tinggi.Alangkah baiknya kalau mahasiswa dan kegiatan mahasiswa
tidak dipandang hanya sebagai kegiatan sampingan dari kuliah. Saya
pikir dan saya percaya, kalau saja mahasiswa diberikan kesempatan untuk
membantu pelaksanaan pencapaian tujuan/visi fakultas maka kami akan
dapat memberikan kontribusi yang jauh lebih banyak dari yang orang
duga. Dengan adanya kebijakan pengembangan mahasiswa/kegiatan
kemahasiswaan yang sejalan dengan visi, misi fakultas dan dekan maka
usaha dan tampilan kerja mahasiswa dapat diarahkan kepada usaha bersama
yang lebih padu dengan usaha civitas akademika lain. Mahasiswa fakultas
psikolog memiliki energi dan kemampuan yang tidak dapat diremehkan
lagi.Apakah sudah ada evaluasi program yang sistematis dan terpadu atas
kegiatan pendidikan dan administrasi Fakultas Psikologi Unpad? Sebab
saya merasa bahwa masih ada kekurangan-kekurangan yang sebenarnya dapat
diatasi oleh sumber daya yang ada di lingkungan kita. Kegiatan Evaluasi
ini sebaiknya menyeluruh, misal apakah proses pendidikan sudah dilihat
mahasiswa sebagai jasa yang layak mereka terima, apakah proses
administrasi fakultas sudah optimal, apakah semua pihak sudah
melaksanakan kewajiban dan menerima hak yang sesuai dengan peran dan
usahanya ?Sudah terpikirkah perlunya ada departemen khusus yang
menangani fungsi Pengembangan Fakultas dan fungsi Humas Fakultas?
Tampaknya kehadiran staff khusus yang memikirkan pengembangan pelayanan
dan penyebaran informasi tentang fakultas sudah mendesak. Kita harus
mengalokasikan orang khusus untuk memikirkan dan melaksanakan
pengembangan sistem IT, evaluasi program pendidikan dan pengelolaan
informasi bagi civitas akademika maupun publik. Secara umum, menurut
saya hal-hal di atas yang harus kita renungkan dan lakukan sebagai
langkah awal dalam perbaikan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Bagaimana kita akan menerima mahasiswa asing, kalau proses registrasi,
penjadwalan kuliah, fasiltas perkuliahan dan hasil evaluasi masih belum
optimal, bagaimana mahasiswa asing akan tertarik untuk berkuliah di
kampus kita kalau organisasi mahasiswa dan kegiatan kemahasiswaan masih
belum mapan, kalau fasiltas komputer dan sistem informasi di kampus
masih dalam tahap perintisan, bagaimana kita akan menjadi fakultas
terkemuka dalam kualitas pendidikan dan penelitian kalau staff pengajar
kita masih sedikit yang dapat berbahasa asing secara aktif, mengenal
komputer dan internet, kalau perpustakaan fakultas belum dikelola
secara lebih rapih, kalau fasilitas penelitian dan budaya meneliti
belum dikenalkan sebagai sesuatu yang menarik kepada mahasiswa? Saya
pikir usaha ke arah perbaikan yang saya sampaikan sudah ada namun
bayangkan betapa banyak peningkatan yang kita capai kalau itu semua
dilakukan secara terencana dan terpadu sebagai suatu kesatuan.
Terimakasih dan saya harap tulisan saya ini tidak dianggap sebagai
sesuatu yang lancang dan mengganggu namun dipertimbangkan sebagai suatu
bentuk kepedulian salah satu anggota “Keluarga Besar Fakultas Psikologi
Unpad”. Japra (I1097019)
                                                      Menjelang Lustrum, 2001

Psikotes, Training dan Penelitian

Monday, October 16th, 2006

Assalammualaikum Wr. Wb., Salam Sejahtera Bagi Kita Semua. Sementara
dunia kognitif mahasiswa fakultas Psikologi Unpad masih sibuk dirundung
pengetahuan dan praktikum pemeriksaan psikologi, perencanaan,
pengelolaan pelatihan dan penelitian-penelitian psikologi….dunia
terus berputar. Ranah Psikologi di dunia ilmu pengetahuan dan terapan
semakin meluas dan diakui. Bagi mahasiswa Fakultas Psikologi Unpad,
praktik perlindungan tenaga kerja, konseling dan terapi relaksasi saja
mungkin masih sesuatu yang belum jelas…..apalagi psikologi komunikasi
massa, psikologi negosiasi dagang dan kejahatan, psikologi hubungan
internasional dan masih banyak lagi kajian psikologi yang telah
berkembang.
Berikut penulis kutipkan sebuah artikel dari Kompas
untuk menambah wawasan rekan-rekan mahasiswa sekalian (walaupun membaca
Koran sekitar 45 menit sehari dari 24 jam hidup Anda lebih dianjurkan
Penulis!) Pemenang Nobel Ekonomi Tahun 2002 Daniel Kahneman (66) dan
Vernon L. Smith (75) bersama-sama memenangi hadiah Nobel Ekonomi tahun
2002. Kemenangan mereka itu diumumkan di Stockholm, Swedia, Rabu
(9/10). Mereka berdua dinilai berjasa mengembangkan teori ekonomi
sehingga lebih mampu menjelaskan fenomena kehidupan (ekonomi)
masyarakat modern. Hadiah uang yang akan diterima bersama oleh 2 warga
Negara AS itu sebesar 10 juta kronor (setara dengan 1,07 juta dolar
AS). Asumsi ekonomi tradisional mengatakan perilaku (ekonomi) rasional
manusia didorong oleh kepentingan pribadi. Dua ekonom tersebut
mengatakan perilaku seseorang tidak melulu didasari oleh kepentingan
pribadi. “Kahneman telah mengintegrasikan pemikiran-pemikiran dari
teori psikologi untuk menjelaskan perilaku masyarakat di bidang
ekonomi. Dengan demikian, dia memberikan landasan pada penelitian
bidang baru, yakni teori ekonomi baru yang didikung salah satu asset
pemikiran psikologi,” ujar Akademi Sains Kerajaan Swedia (The Royal
Swedish Academy of Sciences) yang menjadi panitia pemilihan dan
penyerahan penghargaan Nobel. Kahneman lahir di Tel Aviv tahun 1934,
meraih gelar sarjana muda dari Univ. Hebrew, Jerusalem, dalam bidang
Psikologi dan Matematika. Ia mendapatkan gelar Doktor bidang Psikologi
dari University of California. Ia merupakan seorang profesor ekonomi
tentang public affairs di Princeton University. Kahneman menemukan
bagaimana seseorang dapat mengambil keputusan jalan pintas, yang
melenceng dari prinsip-prinsip dasar ekonomi. Dia menemukan fenomena,
dimana seseorang mengambil keputusan berdasarkan rule of thumb (sebutan
bagi keputusan yang tidak didasarkan pada pemikiran yang mendalam namun
atas dasar perhitungan kasar atau sekilas, pada saat panic). Temuannya
dapat memberikan penjelasan mengenai dinamika bursa saham yang tidak
stabil. “Seorang investor bias tahu bahwa perilaku seorang fund manager
(pengelola dana investasi) sangat bias menentukan kenaikan harga
saham,” ujar Akademi. Secara singkat, berdasarkan teori ekonomi standar
diketahui bahwa fluktuasi harga saham suatu perusahaan dipengaruhi oleh
potensi keuntungan perusahaan. Jika perusahaan diperkirakan akan
mendapat keuntungan, investor akan membeli sahamnya agar mendapatkan
dividen. Sebaliknya saham akan dijual bila terdapat indikasi bahwa
perusahaan akan merugi atau tidak untung. Kenyataannya tidaklah
demikian yang terjadi di bursa saham. Tahun 2000 lalu, indeks saham di
Wall Street misalnya, melampaui angka 10.000 poin, bahkan sempat
melejit hingga sekitar 11.000 poin (maksudnya transaksi tinggi,
kenaikan harga saham tinggi –penulis-). Kenaikan tersebut juga diikuti
oleh kenaikan serupa di bursa-bursa lain di dunia. Akan tetapi,
lihatlah keadaan sekarang. Indeks di Wall Street sudah jatuh dibawah
kisaran 8.000 poin. Keadaan berubah cepat dan tak terduga. Itu tidak
bisa dijelaskan oleh teori ekonomi konvensional. Berdasarkan temuan
Kahneman, hal tersebut di atas terjadi karena faktor pemikiran singkat
investor dalam mengambil keputusan jual beli saham. Dia juga
menjelaskan adanya keinginan sejumlah orang untuk mengendarai mobilnya
beberapa kilometer dari rumah, hanya untuk mendapatkan potongan harga
barang yang tidak seimbang dengan jarak yang ditempuh, waktu yang
digunakan dan biaya bahan baker yang harus dikeluarkan. Namun konsumen
tetap memutuskan untuk pergi dan membeli barang dengan potongan harga
tersebut bahkan kalau hal tersebut menghasilkan kelelahan fisik juga.
Kahneman menggunakan pendekatan psikologi kognitif untuk mempelajari
keputusan manusia dan pembuatan keputusan (decision making? Problem
solving? –penulis-) yang terkesan emosional atau tidak logis menurut
pemikiran teori ekonomi konvensional. Vernon L. Smith adalah profesor
ekonomi dan hukum di George Mason Univ., Virginia, Amerika Serikat.
“Dia telah mengembangkan serangkaian metode eksperimen. Dia juga
menetapkan standar untuk memastikan faktor-faktor apa saja yang
dibutuhkan untuk mendukung eksperimen terpercaya di laboratorium,”
jelas Akademi (itu sih dosen kita juga harusnya bisa, ka nada jurusan
eksperimen –penulis-). Smirh meraih gelar sarjana muda bidang teknik
elektronik dari CalTech (California Institute of Technology) pada tahun
1949, Master of Arts bidang Ekonomi di University of Kansas pada tahun
1952 serta doktor ekonomi dari Harvard University, Cambridge, Amerika
Serikat. Smith memelopori percobaan-percobaan bidang ekonomi di
laborotorium (nah ini yang dosen kita belum terdengar dan terlihat
bisa! –penulis-). Belum pernah ada, ataupun terdengar teori ekonomiu
yang menggunakan laboratorium sebagai pengujiannya, seperti penelitian
ilmu pengetahuan alam. Smith menggunakan terowongan-terowongan angin
dalam melakukan penelitian laboratoriumnya. Dia melakukan simulasi
bagaimana harusnya perusahaan pembangkit tenaga listrik dideregulasi
(sebelumnya didominasi oleh Negara, mungkin kayak PLN di Indonesia
–penulis-). Dia merancang pola-pola deregulasi dan kemudian mencari
pola deregulasi mana yang paling efisien (Masya Allah, gak
kebayang…profesor psikologi dan hukum bikin penelitian ilmiah pake
tabung angin tentang deregulasi perusahaan! –penulis-). Smith memang
sangat terlibat dalam swastanisasi ketenagalistrikan di Australia dan
Selandia Baru (Pak, monggo mampir ke Indonesia –penulis-). Sebagai
konsultan di bidang itu, ia juga terlibat dalam diskusi serupa di
Amerika Serikat. Percobaan Smith telah dikembangkan sejak decade
1960-an. Percobaan serupa juga diterapkan untuk menguji mekanisme
lelang swastanisasi Perusahaan Negara dan tender pembelian barang untuk
pemerintah (Ibu Mega dan Pak Kwik, silakan baca laporan penelitiannya.
Orang BPPN dan Mendagri juga sekalian lah! –penulis-). Teori seringkali
kesulitan untuk menemukan mekanisme deregulasi atau mekanisme lelang
yang paling sesuai untuk diterapkan. Kesulitan tersebut bisa diatasi
lewat percobaan-percobaan laboratorium tersebut,” ujar Akademi mengenai
penelitian Smith. Smith juga mengevaluasi berbagai mekanisme slot-slot
waktu (keberangkatan dan kedatangan pesawat, mungkin? –penulis-) di
Bandara dengan menggunakan simulasi pasar, yang dibantu computer
(sesuatu yang masih dipake buat mengetik doing di Unpad –penulis-).
Juri Nobel menilai, ekonomi telah lama dinilai sebagai ilmu
non-eksperimental, di mana para peneliti ekonomi lebih mendasarkan diri
pada data-data observasi dunia nyata. Akan tetapi penelitian
laboratorium yang terkontrol telah muncul sebagai suatu bagian vital
penelitian ekonomi. Disarikan dari harian Kompas, Jumat, 11 Oktober
2002, halaman 12 (Reuters/AFP/MON). -o- Nah, bagi rekan-rekanku
mahasiswa fakultas Psikologi Unpad, akan kemana Anda? Tidak usah takut
ilmu Anda tidak akan terpakai. Tidak usah pula khawatir bahwa Anda
hanya akan berakhir memberikan pemeriksaan Psikologi atau mengerjakan
skoringnya saja. Tidak usah juga terlalu khawatir bahwa mungkin
pelatihan adalah bidang terapan Psikologi yang paling menarik bagi Anda
tapi banyak pesaing. Masih banyak bidang kajian dan terapan yang
berhubungan dengan Psikologi seperti telah diilustrasikan oleh kutipan
artikel di atas. Memang sekarang belum ada sistem major dan minor dari
perkuliahan (major psikologi, minornya manajemen ekonomi misalnya) di
Unpad. Skripsi yang ‘nyeberang’ ke disiplin ilmu lain pun masih susah
(padahal bisa dicoba pembimbingnya dari dua fakultas berbeda, kan?).
Saya selalu ingin bilang, kalau kita tidak bisa memindahkan gunung,
kitalah yang harus datangi gunung lalu panjat, gali menembusnya atau
bikin jalan sekelilingnya. Mungkin kita belum berhasil dan orang lain
yang akan menyelesaikannya, tapi kita kudu nyoba.

Praktisnya, kita coba saja baca bidang ilmu lain yang menjadi minat
utama kita, yang didukung oleh pengetahuan dan keterampilan psikologi
kita (misalnya ekonomi, politik, bahasa, film, atau apapun). Tapi kita
pelajari hal tersebut dengan serius dan manfaatkan penguasaan kita
tentang psikologi untuk membantu penguasaan hal tersebut. Siapa tahu
dalam 5 tahun saya akan dapat membaca tentang pemenang Nobel oleh
Doktor dalam bidang Psikologi Film, Psikologi Iklan, Psikologi
OlahRaga, Psikologi Transformasi Konflik Etnis, dsb yang merupakan
alumni Psikologi Unpad (atau psikologi manapun asal dari Indonesia lah!
–penulis-). Amin. Wassalammualaikum Wr. Wb., Damai di Bumi Bagi Kita
Semua.
Hormat saya, Fajar Anugerah
21/9/2004

Monday, October 16th, 2006
         

Email Seorang Aktor
Pada Kekasihnya

Halo lagi dimana kamu ?

Semoga kamu lagi baik-baik
saja.Aku lagi break syuting nih !

Sengaja bawa laptop dan Hpku langsung
on line deh.

Yang, aku mau ngobrol serius nih. Mmmmm….Aku terkejut ketika
ketika makan malam kemarin,setelah aku latihan dialogKamu bilang kamu
tidak percaya lagi padaku

Kamu bilang bahwa aku aktor yang baik

Begitu
baik sampai kamu takut kalau

Apa yang aku alami bersama kamu

Apa yang aku
rasakan bersama kamu

Apa yang aku bilang tentang kamu dan kitaBagaimana
aku ke kamu

Cuman akting semataKamu bilang aku cerdas dan jebolan
Fakultas Ilmu Jiwa

Jadi….bisa aja aku bikin kamu yakin

Bahwa aku suka
kamu

Bisa aja aku nyembunyiin perasaan sebenarnya

Bisa aja aku boongin
kamu

Bikin kamu ketergantungan sama aku

Semuanya cuman topeng doang

Kamu
mungkin benar sayang,

Aku bisa saja akting selama kita bersama

Aku bisa
aja boong setiap kali ngomong

Aku bisa aja bikin kamu ketergantungan
sama aku

Aku bisa aja pura-pura sukaKarena aku memang aktor dan jebolan
Fakultas Ilmu Jiwa

Tapi kan gue cuman akting kalau di panggung

Gue cuman
akting kalau di depan kamera

Gue cuman “sempurna” kalau lagi di depan
klien

Gue jadi romantis kalau ada di naskah

Gue jadi charming kalau di
make-up

Bukannya elo pernah liat gue lagi buruk-buruknya

Elo pernah
(sering…kali?!) liat gue tanpa make up

Elo sering liat gue takut
beneran

Elo sering liat gue kesel gara-gara kerjaanElo sering liat gue
capek dan cuma bisa tidur di samping elo

Elo pernah liat gue pas gue
kena asma

Elo tau gue takut kucing

Elo tau gue gak bisa berenang

Elo tau
deg-degannya gue pas ciuman ama elo

Elo juga tau malunya gue pas elo
pegang tangan gue

Elu juga tau bahwa gue boros

Elu juga tau bahwa gue
pelupa

Elu juga tau bahwa gue suka males latihan kalo gak ditelepon
manajer gue

Elu juga tau bahwa gue seneng masak sendiri daripada harus
ke restoran mahal

Elu juga tau bahwa gue gak percayaan ama orang

Elu juga
tau bahwa gue gampang marah

Elu juga tau bahwa gue kadang-kadang
gokil

Itu semua bukan akting, sayang….

Kalau gue akting elu gak bakalan
masuk ke lingkaran hidup gue

Kalau gue akting, gue butuh break dan cut
karena capek ataw lupa dialog

Kalau gue akting, gue akan selalu
“perfect”

Gue harap elo pikirin lagi kata-kata gue ini.

Udah dulu ya,
yang…Sutradara udah manggil lagi.

Udah mau re-take scene gue nyium si
Rachel.

Ini udah yang ketiga kalinya kapan sih dia mau apal dialog setelahnya.

Bye………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Bandung, 11 Mei 2001

The cry from Jatinangor

Monday, October 16th, 2006

Dear All,

My experience
I’d like to share my experience in kampus Psikologi Unpad Jatinangor.
It has been a truly learning experience.
I learned to realize my traits, my strengths and shortcomings.
I learned how to struggle and labor for something that I wanted.
I learned how to exert my maximum mental energy for a minimum results.
I learned that my earlier view of psychology as an interesting field of social science, is not so interesting after all.
I
learned that questioning a teacher’s view in the classroom may not be
so easily as they portray academical life in movies and films.
I
learned that I cant be a sandal-and-tshirt wearing psychology student,
attending classes and enjoying theatrical play or musical concerts in
between them. A protrayal I received from watching too many western
movies and tv films) =p

I dont care about what time the
administration staff went home,but it’s ridiculous if we have to wait
for the staff to get into the library at 09.00, or to write a request
letter whenever I want an academical transcript (other campus’ students
receive it as a monthly service).

I cant accept whenever I was
being yelled at or sent away from class by a dosen because I’m
late….but whenever they’re late or absent without notice, it’s fine.
(I initiated my class to strike against a dosen one day, when she came
one and a half hour late, THREE TIMES IN A ROW without notice)

I
got disappointed when a proposal initiated by students, to modernize
the campus’ computer network and administration software system, was
rejected. The fact that it can improve the grading system, daftar ulang
procedures, KRS procedures, perwalian procedures (the shortcomings
frequently experienced by students).

It amused me how teachers
came up with test mark but won’t show the student’s paper to tell them
where they’re wrong and right. It was a new record when one of the
class received their marks on a subject 1,5 years after they passed the
semester it was taken. (Thank goodness I wasn’t in the class, for I
would’ve protested and showed them the university regulation that
stated they oughta received minimal B for every subject results which
is displayed one semester late ).

It was hilarious how student
have to rent for a digital projecter for his seminar, because all of
the now-obsolete-OHPs weren’t available. It was uncanny that a
student’s work is accepted and admitted in a small yet scientific
publishing when he’s a pushover at campus.

My opinion
The new
generation Psychology students are not necessarily directed to become
psychologists. They may be taught the standards of psychological ethics
and skills but not necessarily be expected to perform like their
predecessors. There should me a more lenient approach to the
undergraduate program, where students are taught the basics of
psychology and its unlimited application or development in real life
settings. Undergraduate students oughta stimulated to be interested to
know more about psychology (in magister or profession programs!). Sure
they must know Freud and Fromm, Erikson and Jung, James and Maslow,
Heidegger and Lacan, Horney and Adler, Watson and Sullivan, Pavlov and
Piaget. But above all they must understand that they’re studying human
and therefor must try their best to be humane themselves (although many
humans outthere are inhumanely treating fellow humans!).

The new
generations of Undergraduate Psychology programs oughta received what
they deserve, a service from an educational institution with long
history of perfection and harmony. They should be able to get their
transcript easily, they’re supposed to be able to learn the diversity
of psychology application (tvcommercial, international diplomacy,
consumer research, forensic psychology, pre-school learning, etc). This
in mind, we can accept foreign students and conduct international
classes.

I’m not a laid back complaining student. All the time
in Psychology, I was actively endeavoring ways to improve our campus,
the best that I can do. It may not be much but I did it wholeheartedly.
But it was too exhausting, me and a bunch of other "rascals" were like
swimming against the current.

I’m not closing my eyes against
changes and improvements done recently (they reduced the number of
dosen pembimbing skripsi to only one per students. It cleared many
problems faced by students with two dosen pembimbing! Congrats on
this). But they’re too little and too slow. We need more efforts, we
need more money, we need more people power and most of all we need YOU,
fellow alumni.

Lets do what we can to salvage and bring back the
glory of Psychology Unpad. We need to prepare it for the future. The
transition from PTN into BHMN, from local students to international
students, from book-based library into internet-knowledge library, from
teacher-oriented learning program to student-oriented learning program,
from testing-psychology to life-psychology, from fotokopian catetan to
soft-copy, from OHP presentation to Power Point Presentation. It may be
nice to reminiscent the glorious past, but it is more exhilarating and
challenging to prepare for the glorious tomorrow.
I’m writing this
in English maybe because I want only selected few people who bother to
read and try to understand it. Maybe I’m writing this in English, out
of my sentiment always being told that Psychology UI students are
better in English and presentation skill. But I think, I write this in
English because I CAN and I havent been able to do this in campus.

Quo Vadis Fakultas Psikologi?
The answer is not out there, only we can answer it

Regards,
Penulis adalah mahasiswa (yup…sayangnya masih) angkatan 97

Shadow of doubt

Monday, October 16th, 2006

How can I be so misdirected
So blinded to make the right call

How can I got so mystified
To finally take the fall

How can I be such a moron
Not be able to foresee

This big chunk of problem
Which could be my destiny or my ruin

I have never been put in such a difficult position
No matter what I do or do not, will be wrong

Why now, when I’m almost certain
Of what I want to be and who I want to end up with

Is this a sign
or is this a test

How can one know for sure
How can I know for sure

I have prayed
I have tried
I have read
I have asked

Yet answers come not in clear sentences
It is really my life’s turning point

29/09/2004

Fading

Monday, October 16th, 2006
         

What once was
Is now a mere traces

I am waiting
Building strength and courage
Knowledge and wisdom

So I can stand proud and useful
Once again and more than ever

24/12/2004

Too much information is not doing us much good

Wednesday, October 11th, 2006

After enduring the 1st 9 days of my new life in Essex, I am reminded again about the credo of anti internet movement, "too much information will lead us nowhere".

In the past days, I have to shift through all kinds of registration process, adjusting process with the lifestyles, reading all sorts of regulations and procedures, learning how to operate things in our accommodation and the surrounding facilities. Mind you, the university is doing their best to help us, giving us tons of pocket guidelines (on being a fresher, on library, on student union, on accommodation network, on welcome to Essex, etc) and lots of online reading materials (on everything that matters and dont really matter, to me at least) and to make some student union staffs (or whatever they call it here, I’m not sure) stand around the campus for a week, ready to answer questions and point directions to us newbies. But it’s just too much for some of us.

I mean the load of information they provided for us, could even be given as a one semester course of BA.

And my MA course/s has not even started yet. (sigh) I know this would be a looong year, instead of a leisurely one.

I missed my Istanbul summer course.