Adzan Virtual
Puasa pertama di
Inggris
Nama saya
Fajar Anugerah usia 27 tahun. Saya dan istri saya merupakan salah satu dari
sekian pasangan muda yang mendapatkan kesempatan dari Allah untuk menunaikan
ibadah puasa pertama kami sebagai suami istri, di tempat di mana Islam
merupakan agama minoritas. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk
melanjutkan studi paska sarjana saya, dengan beasiswa, di Inggris.
Saya dan istri
saya menikah pada tanggal 26 Juni 2006. Beberapa minggu setelah itu, pada
tanggal 1 Oktober 2006, kami sudah tiba di Inggris untuk mengawali masa
perkuliahan saya. Antara bulan Juli hingga Agustus, saya sempat berada di
Istanbul
, Turki selama 1 bulan untuk kegiatan orientasi
perkuliahan di Bilgi University,
Istanbul
.
Sayangnya pada saat itu, istri saya tidak bias turut serta.
Sebelum kami
tiba di Inggris, saya dan istri disibukkan oleh mempersiapkan diri menghadapi
keberangkatan kami. Persiapan tersebut terutama difokuskan pada barang apa saja
yang kami bawa sebagai bekal 1 tahun tinggal di Inggris. Sempat terbersit
kekhawatiran istri saya dan saya, bahwa kami akan menemui kesulitan beradaptasi
dengan cuaca dan melaksanakan ibadah puasa di Inggris. Terbayang oleh kami
bahwa jadwal kuliah saya yang mungkin padat, cuaca dingin yang menusuk (plus
mitos bahwa Inggris selalu hujan dan berkabut) serta tidak adanya suasana Islam
yang biasanya mewarnai bulan Ramadhan di negeri sendiri, akan cukup menyulitkan
kami beribadah, khususnya dalam berpuasa. Namun kami kuatkan tekad kami bahwa
kami pasti akan bisa berjuang bersama, dimanapun kami berada.
Alhamdulillah,
ketika kami tiba di kampus, dimana mereka menyediakan akomodasi bagi saya dan
istri, kami mendapatkan informasi bahwa ada komunitas muslim di kampus yang
melaksanakan kegiatan buka puasa bersama dan ibadah shalat Maghrib hingga
Tarawih bersama. Hari kedua kami tiba, saya berusaha datang dan menghadiri buka
puasa bersama tersebut. Ternyata komunitas muslim di kampus ini cukup kuat,
didominasi oleh muslim dari negara Timur Tengah, mereka sudah beberapa tahun
membentuk komunitas yang terdaftar dan difasilitasi oleh Student Union (semacam
Badan Eksekutif Mahasiswa) kampus saya. Atmosfer Timur Tengah amat terasa,
namun tidak membuat mereka tertutup pada kami, bahkan mereka memberikan makanan
sahur juga bagi kami.
Komunitas
muslim itu memberikan layanan buka puasa bagi anggota maupun non anggota, cukup
dengan membayar 2 poundsterling bila kami telah mendaftarkan kehadiran kami
sebelumnya, atau 4 poundsterling bila kami muncul tanpa mendaftarkan diri
sebelumnya. Hal ini nampaknya untuk mendorong orang-orang menjadi anggota dan
mendaftarkan kehadirannya di kegiatan buka puasa, sehingga sang juru masak
dapat mempersiapkan masakan sesuai dengan jumlah anggota yang akan hadir pada
setiap acara buka puasa bersama.
Kegiatan buka
puasa umumnya diawali dengan makan kurma manis yang dicelupkan ke semacam susu
krim. Setelah itu, kami shalat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan
kegiatan makan malam yang khas dengan menu Timur Tengah. Porsi makanan yang
disediakan untuk setiap orangpun relatif besar bagi perut kami. Bahkan istri
saya terkadang ditawari untuk mengambil porsi tambahan.
Sayangnya,
istri saya merasa kurang cocok dengan makanan yang disediakan, maklum lidah
orang
Indonesia
kami mungkin masih lebih mesra dengan selera nusantara dibandingkan dengan
selera 1001 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba mempersiapkan
hidangan buka puasa kami sendiri, sesederhana apapun. Terkadang kami masih
datang ke komunitas muslim tersebut untuk melaksanakan shalat berjamaah, namun
akhirnya kami lebih sering shalat berjamaah berdua. Hal ini tentunya merupakan
suatu pengalaman yang khusus juga bagi kami, dimana sebagai suami saya belajar
menjadi imam shalat bagi istri saya.
Hal lain yang
sangat terasa bagi kami adalah ketiadaan adzan maghrib yang biasanya sahut
menyahut menandakan saat buka puasa. Pada awal puasa kami di Inggris, kami
hanya menduga waktu puasanya ditandai dengan terbenamnya matahari. Namun
kemudian kami mendapatkan jadwal buka puasa dari komunitas muslim tersebut dan
hal ini cukup membantu kami. Walaupun kami sudah tahu jadwal shalat dan berbuka, namun suara adzan yang khas masih
tidak bisa kami dengar dari flat kami di lantai 13.
Akhirnya,
istri saya mengambil inisiatif untuk men-download
dan mengaktifkan sebuah aplikasi komputer gratis yang diberi nama Athan.
Program ini dirancang untuk memberi tahu penggunanya, waktu shalat di manapun
kami berada di dunia dan memainkan rekaman suara adzan. Masya Allah, akhirnya
bisa juga adzan terdengar berkumandang di lantai 13 flat kami ini. Ternyata,
ibadah puasa kami di Inggris harus didukung oleh kecanggihan teknologi.
Walhasil kamipun menikmati adzan virtual sebagai penanda ibadah shalat 5 waktu
dan berbuka puasa di Inggris.