The big showdown
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu (dan mungkin ditakuti)
sebagian besar anak-anak (dan pencinta buku) di seluruh belahan dunia sudah
datang. Hari ini, tepatnya tengah malah tanggal 21 Juli 2007, bagian terakhir
dari cerita panjang Harry Potter sudah beredar resmi.

Buku ketujuh yang bertajuk Harry Potter and the Deathly
Hallows telah menjadi salah satu judul (kalau bukan yang paling) ditunggu oleh
pembaca buku. Ribuan kopi buku sudah dipesan jauh-jauh hari agar para pembaca
bisa mengambil buku ini tepat tengah malam hari ini.
Gagasan
peluncuran buku tengah malam ini cukup unik dan controversial. Unik karena
untuk buku yang dikategorikan oleh sebagian pengamat sebagai buku bacaan anak,
peluncuran perdana buku pada waktu tengah malam pada awalnya disangsikan akan
cukup mengundang pembacanya untuk tetap bangun melampaui waktu tidur normalnya.
Kontroversial
karena sejak beberapa buku sebelumnya, penerbit utama buku ini (Bloomsburry)
membuat para distributornya untuk menandatangani perjanjian kerahasiaan khusus,
bahwa sebelum peluncuran resminya tidak boleh ada bocoran informa
si apapun
kepada publik. Khusus untuk buku terakhir ini, sang penulis, JK Rowling dan
penerbitnya bahkan membuat kesepakatan legal dan seruan kepada media massa
untuk tidak membahas plot cerita sebelum waktunya, agar tidak merusak
kesenangan para pembacanya ketika menerima buku mereka pertama kalinya.
Gagasan pemasaran
yang unik ini dikembangkan lebih jauh dengan mengemas acara peluncuran dengan
kegiatan-kegiatan yang unik. Di lokasi peluncuran utama buku ini misalnya,
London, JK Rowling tadi malam membagikan buku yang ditandatanganinya kepada 500
pemesan yang diundi melalui sayembara dan kemudian mengadakan kegiatan baca
buku bersama. Dengan jumlah halaman yang melampaui 700 halaman, Anda bisa
bayangkan berapa lama anak-anak ini harus tetap terjaga lebih lama lagi.
Walaupun diwarnai sebagian anak menguap dan tertidur di pangkuan orang tuanya,
sebagian besar bertahan hingga acara usai.

Di lokasi tempat
saya melaksanakan studi, Colchester, toko buku lokal melakukan kegiatan yang
lebih kreatif lagi. Mereka mengundang 200 pemesan buku pertama untuk mengadakan
kegiatan bersama. Kegiatan dimulai sekitar pukul 10 malam di Kastil bersejarah
peninggalan jaman Romawi kuno. Kastil yang juga berfungsi sebagai museum ini
disulap menjadi Kastil Hogwarts, tempat dimana Harry Potter dan kawan-kawannya
bersekolah seperti diceritakan di bukunya. Kemudian para peserta dibagi-bagi
menjadi 4 kelompok berdasarkan pembagian asrama di Hogwarts, yaitu Griffindor,
Slytherin, Hufflepuff dan Ravenclaw. Sebagian besar anak merengek dan minta
tukar asrama ketika mereka tidak mendapatkan asrama di mana Harry berada, yaitu
Griffindor.
Kemudian,
kelompok-kelompok ini diarahkan untuk melakukan aktivitas di 4 ruangan yang
berbeda, untuk kemudian secara bergiliran berpindah ke ruangan yang lain.
Aktivitas yang dilakukan cukup menarik, meliputi kelas Potion bersama Snape
(salah satu peran guru yang dikesankan galak dan diperankan secara mirip sekali
oleh salah satu pegawai toko buku Red Lion) dimana para “siswa” harus menjawab
pertanyaan dari sang guru seputar ramuan-ramuan sihir, sesuai dengan apa yang
diceritakan di buku. Kegiatan di ruang lainnya adalah semacam berburu harta
karun, dimana para peserta diberikan secarik kertas berisi petunjuk-petunjuk
dan pertanyaan yang berhubungan dengan kisah Harry Potter dan informasi di
dalam museum. Setelah selesai di bagian ini, para peserta kemudian berpindah ke
ruangan di mana seorang guru alkemi, ilmu kimia sihir, memeragakan beberapa percobaan
sihir dan membuatkan tongkat sihir bagi peserta. Ruangan terakhir diisi oleh
musisi yang berkostum hantu, di sini peserta diajak bermain dengan menggunakan
petunjuk berupa alunan musik. Para musisi akan memainkan beberapa lagu singkat
yang harus diikuti peserta dengan gerakan-gerakan tertentu (bergerak menuju
lokasi tertentu di dalam ruangan, berpose menggunakan tongkat sihir, dsb).
Sebagian besar anak terlihat bersemangat walaupun menjelang tengah malam,
sebagian terlihat mulai mengantuk dan rewel.
![]()
Setelah serial
Harry Potter diakhiri dalam buku ketujuh ini, saya dan sebagian besar
pembacanya tentu merasa lega sekaligus sedih. Lega karena akhirnya dahaga kami
akan akhir cerita perseteruan Harry dengan Voldemort sudah terungkap. Sedih
karena khawatir tidak akan ada lagi buku yang bisa membuat kami menghabiskan
waktu kami menyelesaikan satu buku dan menanti buku berikutnya keluar.
Serial Harry
Potter layak dihargai karena telah berhasil mengembalikan minat baca anak-anak
dan orang dewasa di masa di mana hiburan elektronik seperti televisi dan
permainan elektronik sudah sangar mewabah.
July 25th, 2007 at 1:49 pm
Kalau Gramedia berencana utk bikin launching Harry Potter versi Indonesia…aku mau dong terlibat jadi event organizer-nya…kalau ada orang Gramedia yang baca, kontak saya pleaaase…uang nomor sekian.